Angkat ku Angkot Bandung*

Oleh: Rani Widya

Pengguna angkot dan admin kukulintingan

 

Transportasi umum di Bandung identik dengan angkutan kota atau angkot. Angkot dapat ditemui di mana saja. Walaupun Pemkot Bandung berencana mengganti angkot dengan bus kota secara bertahap, menghapuskan angkot secara total sepertinya sulit. Kondisi jalan di Bandung yang kebanyakan sempit dan ruasnya pendek-pendek lebih dapat diakomodasi angkot dibanding moda transportasi umum lainnya seperti bus kota.

Seperti kebanyakan angkutan umum di Indonesia, prosedur menggunakan angkot sangat mudah. Tinggal melambaikan tangan, naik, sampai ke tujuan, turun, bayar. Tapi fakta-fata berikut tentang naik angkot di Bandung mungkin berguna:

1. Kode warna

Di kebanyakan kota-kota di Indonesia, rute angkot ditandai dengan kode angka. Di Bandung, selain menggunakan kode angka, angkot juga ditandai dengan warna yang berbeda-beda untuk setiap rutenya. Jangan heran kalau bertanya pada warga Bandung tentang cara mencapai satu tempat dengan angkot, mereka akan menjawab “Naik angkot pink, turun di perapatan, terus tuker sama angkot biru sampai habis,” atau semacamnya. Sering kali nomer dilupakan sama sekali.

Untuk membedakan dua angkot yang warnanya mirip, katakanlah hijau, biasanya disebutkan nama rutenya dengan lengkap, misalnya Cicaheum-Ledeng atau Kalapa-Caheum. Saking ikoniknya kode warna ini, bahkan sering ditemukan kaos yang desainnya mengambil salah satu warna angkot di Bandung.


Kaos bergambar angkot [Sumber gambar
https://oktaplantlover.wordpress.com/2011/10/21/menjadi-insan-bermanfaat-ala-mahanagari/]

Sekalipun kode warna ini unik dan sangat membantu, akhir-akhir mulai beredar angkot yang memasang iklan di badan mobilnya. Iklan ini sayangnya kadang menutupi desain warna asli angkot.

 

2. Turun-naik

Idealnya, tentu saja, angkot menaikkan dan menurunkan penumpang di halte supaya tidak mengganggu pengguna jalan yang lain. Sayangnya, ada beberapa alasan kenapa kondisi ideal ini tidak selalu tercapai.

Pertama, tidak semua ruas jalan di Bandung memiliki halte yang memadai. Untuk ruas-ruas jalan tertentu, menyediakan halte bahkan mustahil karena tidak ada ruang.

Kedua, pengguna angkot di Bandung sudah terbiasa naik-turun seenaknya. Bahkan ketika ada halte sekalipun, kalau jarak halte terlalu jauh dari tujuan, kebanyakan penumpang akan memilih tidak menggunakan halte.

Ketiga, kondisi halte pun tidak selalu ideal. Kadang penempatannya tidak mengakomodir kebutuhan penumpang. Kadang halte dibangun sejajar badan jalan tanpa tempat berhenti, atau ditempatkan di belokan. Ini tentunya mengganggu pengguna jalan yang lain. Sialnya, ketika diberi tempat untuk berhenti angkot, kadang malah dijadikan tempat parkir.

Halte di pertigaan Jalan Taman Sari-Siliwangi.
Posisi halte di belokan dan tidak ada tempat berhenti.

Halte di depan Mesjid Cipaganti.
Bagian depan halte dijadikan tempat parkir
sehingga penumpang tetap menunggu di tepi jalan.

Dengan kondisi tidak ideal ini, yang bisa dilakukan penumpang (dan supir angkot tentunya) hanya mencoba lebih menenggang kebutuhan pengguna jalan lainnya supaya gangguan yang timbul ketika angkot menaik-turunkan penumpang bisa dikurangi.

 

3. Ngetem

Terkait menaikkan penumpang, satu hal yang juga biasa dilakukan angkot adalah ngetem—menunggu di ‘terminal’ hingga angkot penuh berisi penumpang. ‘Terminal’ perlu diberi tanda kutip karena tempat angkot ngetem tidak selalu berupa terminal resmi tapi juga terminal bayangan yang… kadang-kadang terbentuk karena seringnya digunakan angkot ngetem. Dengan kata lain, sembarang tempat bisa jadi lokasi ngetem. Waktu ngetem bervariasi, umumnya antara 5-15 menit untuk angkot terdepan dalam antrian. Yang perlu diperhatikan adalah sistem ‘antrian’ untuk angkot ngetem. Kalau naik angkot yang ngetem, pastikan naik angkot yang paling depan. Nekat naik angkot urutan selanjutnya bisa membuat kita disuruh turun atau membuat supir angkot terdepan mengamuk. Tentu saja ada pilihan untuk tidak naik angkot yang ngetem. Caranya dengan berjalan agak jauh dari lokasi ngetem dan menyetop angkot yang lewat. Sayangnya ini tidak menjamin angkot tersebut tidak akan ngetem di ‘terminal’ berikutnya. Alternatif lainnya adalah mencoba menjadi pahlawan.

 

4. Rute

Dari sekian banyak fakta tentang angkot di Bandung, rute angkot mungkin merupakan yang paling ajaib dan membingungkan, bukan hanya untuk pendatang tapi bahkan untuk warga Bandung sendiri.

Pertama, rute yang tertera pada angkot tidak selalu menggambarkan titik awal dan tujuan akhir angkot tersebut. Contohnya angkot dengan rute St. Hall-Ciumbuleuit via Eyckman sebenarnya hanya melewati rute Ciumbuleuit-Pasar Sederhana, berputar di Jalan Eyckman tapi tidak pernah mencapai stasiun (untuk mencapai Stasiun Bandung ada rute St. Hall-Ciumbuleuit via Cihampelas). Begitu juga dengan rute Buah Batu-Sederhana yang terbagi dua: Buah Batu-Kebon Kalapa dan Kebon Kalapa-Sederhana.

Kedua, beberapa tempat yang tercantum di rute sering lebih dikenal dengan nama gaul, atau sebaliknya. Contoh: Beberapa rute mencantumkan (Jalan) Abdul Muis yang lebih dikenal sebagai (bekas) Terminal Kebon Kalapa atau cukup disingkat Kalapa. Sebaliknya, beberapa rute mencantumkan Cicadas, yang mengacu pada Jalan Ahmad Yani.

Ketiga, rute pergi dan pulang angkot Bandung sering kali tidak sama. Oleh karenanya cara paling aman adalah bertanya kepada supir untuk memastikan tujuan kita terlewati oleh angkot tersebut. Beberapa situs dan aplikasi ini juga bisa membantu:
http://kiri.travel/
https://angkot.tibandung.com/
https://play.google.com/store/apps/details?id=id.gits.angkot&hl=in

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, tidak semua rute angkot beroperasi 24 jam. Ada beberapa rute yang hanya beroperasi sampai jam 7 malam, atau jumlahnya jauh berkurang setelah jam tertentu.

 

5. Ongkos

Angkot Bandung saat ini tidak memiliki kenek (pembantu supir yang bertugas menagih ongkos), oleh karenanya kita membayar langsung pada supir. Kadang-kadang jika kita beruntung, ada pengumuman di angkot yang memberitahukan berapa ongkos yang harus kita bayar, tapi pengumuman ini tergolong langka sehingga sering kali kita harus bergantung pada pengalaman dan intuisi. Cara yang paling mudah tentunya adalah bertanya pada supir atau memberi uang dengan pecahan besar supaya dikembalikan. Risikonya adalah bisa jadi kita membayar lebih mahal dari yang seharusnya. Ini bisa terjadi dengan sengaja karena supirnya ‘nakal’, atau tidak sengaja, misalnya supir lupa dari mana kita naik. Oleh karenanya penting memberi tahu supir tempat kita naik angkot tersebut. Cara lain adalah bertanya pada sesama penumpang.

Pemerintah kota Bandung sempat merencanakan pembayaran angkot dengan menggunakan kartu pintar. Saat ini kartu pintar sudah diujicobakan untuk pembayaran bus Trans Metro Bandung.

 

Walaupun naik angkot di Bandung bisa dibilang tricky seperti diuraikan di atas, banyak keuntungan yang bisa didapat. Dibandingkan naik kendaraan pribadi, naik angkot mengurangi kepadatan lalu lintas. Sambil naik angkot kita juga bisa melihat-lihat keadaan kota, hal yang belum tentu bisa dilakukan jika kita harus berkonsentrasi mengemudi. Di angkot juga kita bisa bertemu teteh-teteh Bandung yang geulis dan dedek-dedek mahasiswa yang unyu. Waktu di angkot juga bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan banyak hal seperti membaca buku atau bahkan belajar sistem-kebut-seadanya untuk ujian. Yang pasti, ada satu hal yang bisa dilakukan jika kita naik angkot tapi tidak bisa kita lakukan kalau mengemudi: tidur.

 

*) “Angkat ku Angkot Bandung” adalah bahasa Sunda yang berarti “Pergi dengan Angkot Bandung”

 

Leave a Comment